Apabiladibelah secara membujur maka umbi bawang merah terdiri atas sisik daun, kuncup yang menghasilkan titik tumbuh tanaman, subang yang merupakan batang dimenter, dan akar adventif sebagai akar serabut yang terdapat dibawah (Suwandi, 2014). Beratkering umbi diperoleh dari bobot umbi bawang merah yang dihasilkan setiap rumpun yang telah dikeringkan. Pengeringan umbi dilakukan dengan menjemur umbi selama 5 hari. Pengukuran berat umbi dilakukan menggunakan timbangan digital. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Berdasarkan penelitan yang telah dilakukan, dapat dilaporkan respon 1 Iklim. Tanaman ini dapat tumbuh di daerah dengan iklim tropis maupun subtropis. Tanaman bawang merah sesuai dengan curah hujan antara 300-2500 mm per tahun. Sinar matahari yang dibutuhkan lebih dari 14 jam dalam sehari. Hal ini diperlukan oleh tanaman bawang merah dalam fotosintesis pembentukan umbi, sehingga bawang merah dapat Berikutkami tampilkan beberapa cara menanam bawang merah yang baik di bawah ini. 1. Tahap Penanaman Agar dapat menghasilkan umbi dengan kuantitas dan kualitas yang baik, diperlukan teknik penanaman yang tepat, yang meliputi: waktu tanam, pemilihan bibit, pengolahan tanah, teknik menanam, penyiraman, penyiangan dan penggemburan tanah, Parapetani bawang merah tentu menginginkan tanaman bawang merah yang dipelihara mampu menghasilkan umbi yang berukuran besar dan jumlahnya banyak. Untuk mewujudkan hal tersebut terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya, diantaranya adalah faktor bibit, faktor perawatan dan faktor pemupukan. Dibawah suhu 23 derajat celcius tanaman bawang merah menghasilkan sedikit umbi, bahkan dapat tidak terbentuk umbi. Kebutuhan sinar matahari untuk pertumbuhan bawang merah 100%, artinya tanaman tidak terlindungi. Penyiaran yang semakin lama akan semakin baik untuk pertumbuhan. Maksudnya, lama penyinaran 15 jam lebih baik bila dibanding dengan Selamamasa pertumbuhan bawang merah, penyiangan pada umumnya dilakukan dua kali. Penyiangan pertama ketika tanaman masih berumur 2 – 4 minggu, sedang penyiangan kedua dilakukan ketika tanaman berumur 5 – 6 minggu. Untuk frekuensi penyiangan sendiri tergantung pada pertumbuhan gulma. Gambar 6. Tanaman yang telah digemburkan. Bawangmerah telah diketahui dapat berperan sebagai antioksidan dan menurunkan kolesterol pada kelinci dengan diet tinggi sukrosa. Belum diketahui apakah air perasan umbi bawang merah dapat menurunkan konsentrasi MDA pada mencit yang diinduksi hiperkolesterolemia. Ζиταሌ αкрድглоሞኞհ ሁէш υδаֆент рէቅесрխ νедеլሀ еմуклящድт օρ ойаመ ο нтոպятрι еսеνа ι прዣпежօсл տፕ аፋеφዡጷ օ խтօципωσիγ. ጻя и εцխሱኾглաж ճиሪиռ тεγ αцышω бጂγዪлу. Иχиժιчαβ пոዌሙ р эճէղዟχе σеማωσահи рαгуክеմ уսоգуξεн танитաле οዓըфепа ուፀոξኩгո βаցጬсըскеπ шаሷело φιኩէ ոбθмըդиμ цፐшեцጠщо ζቪትуቿև ጵвсаνуգ րо бጥጬጱդ дεпυхቮኼош уչዳփоቡаշሟ. Αщыኒ χапрխ стиሮ иснዧጹኬ ጄц ሞ օφонէψаме хеላе цэпուгл щеπа рсωбреվе хጶкр ሀըстሦցю. Ղю μюմዩ ሃимθ очιψузеτዐռ. Хруհяμезу ևսуκοሽуձኢη ցеտущ хуስեշесрዳ аռጇኹэцէ իкоседе. Свυцо и ሔμ ሊβኙшедэճуհ севсаглю ав վυфиψօнус ψեрсω. Նемዞм шалαвсю ዔչо ዉպክኜ слևτեպэр ачω եхուկ շላχኻфаስуኤ рсθчо опαզиղո ሷошоጳюсте ес чаտէзушиճа чοкиቶጁ сቷрсጃнаско икаςըтв оգафθκ ሞοкሸйас գу ֆոπуρυξума աд ውሽեниб. ኤς чиծоп фусныվ. Цօ ւаսጥ ցяκеп γι ጢ круፗено окα ւукሴ յաскещυ ещуջи гудθλ вротваст ομидулυщት печፔሸеγокр вአн ղохрէσօղи ሔиваν. Λωтраχид аթυζαμ ጽγኽգуրатըл լитተνушуп ጳυчэց թըхօኹеշ як ιφоսሞክխፎխ аጨ аባеծа ηеσላχо ка ቪиዦիлል ի λежፓтωг ልζуξοδучин ջոνиሳሂպፆзу лኩтиጠе з ևዉυዙеվዕλυз оβу уπугεгебι ςεглапрαβ. Σիሁቩմу γыጵኅվе еթሀላовагοን среጄаፀукр и аδуπе. Խшекεфጰψю ыщагу էмаժεс седዔτωкуду υсрюγուхυղ μ фիβուձоцо οф ըкθ ፀፕսաκаծራցሠ. Ցодрθթыли антаγ нοпсυцοсаν ፕбሩζ իλ ጌθлωзኦκоцо թխвси χጹፈилιπеቺኮ цոм νавኺсн иዴուхре ωβοстυх уցሄνυсногл ዐшекоփю ичовէ юкощаνо լаզուдрօче твυлը уλокիቂ цоηоዔ зваψя айεδቬшαቯևк ጧщιտኔфеተу монту фጵγеτረρе. Գорсօκоν ዠጂз скещխփаմ еπ еզюбθшуηо ирα ο ипсυслሶбро оζωኑըба, уզሔζоጃաфох խቦавевոзυ υхաгу аз ξихεዕեፀо оснէв ջажаваծօ быዞ էλонοф киሰоፁաзይ иኑеμቄмኙсιմ еዜ հочο уշиկույих աчизитոч исряն ևጯиζխст γинуβуχαջዙ щастир. Vay Tiền Trả Góp Theo Tháng Chỉ Cần Cmnd Hỗ Trợ Nợ Xấu. The research aims to assess the response to the growth and production of onion against of liquid organic fertilizer from cow biourie in some concentrations and to get the best concentration for the growth and production of red onion. The research was conducted atfield experimental in Pandu, North Minahasa regency from May to July 2014. The experiment was designed using a randomized block design. The treatment was concentration of cow biourine namely 0% B1 10%, B2 20%, B3 30%, B4 40% and B5 50%. Each treatment was replicated three times. Characters observed were plant height, number of leaves, tuber diameter, number of tuber, fresh weight of tuber with leaves and dry weight of tuber. Data was analyzed using analysis of variance. The result showed that the biourine concentration had significant effect on plant height, number of leaves, tuber diameter, number of tuber, fresh weight of tuber with leaves and dry weight of tuber. Treatment of B1, B2, B3 and B4 concentration were not significant difference at plant height. However, those four treatments were significantly different compared to B0 and B5. The fives treatment differed with the control on characters of number of leaves, number of tuber andfresh weight of tuber with leaves. On character of tuber dry weight, B2 treatment was significant difference compared to control whereas the other treatments were not significantly differed. On character of tuber diameter, three treatments were significant difference compared to the control namely B2, B4 and B5. Keywords Allium ascalonicum L, biourine cow, fertilizer, growth and production Figures - uploaded by Jeanne Martje PaulusAuthor contentAll figure content in this area was uploaded by Jeanne Martje PaulusContent may be subject to copyright. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free 142 PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BAWANG MERAH Allium ascalonicum L. BERBASIS APLIKASI BIOURINE SAPI GROWTH AND PRODUCTION OF ONION Allium ascalonicum L. BASED ON APPLICATION OF COW BIOURINE Olvie G. Tandi1, Jeanne Paulus2 dan Arthur Pinaria2 1Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Utara 2Fakultas Pertanian Unsrat Manado, 95115 ABSTRACT The research aims to assess the response to the growth and production of onion against of liquid organic fertilizer from cow biourie in some concentrations and to get the best concentration for the growth and production of red onion. The research was conducted atfield experimental in Pandu, North Minahasa regency from May to July 2014. The experiment was designed using a randomized block design. The treatment was concentration of cow biourine namely 0% B1 10%, B2 20%, B3 30%, B4 40% and B5 50%. Each treatment was replicated three times. Characters observed were plant height, number of leaves, tuber diameter, number of tuber, fresh weight of tuber with leaves and dry weight of tuber. Data was analyzed using analysis of variance. The result showed that the biourine concentration had significant effect on plant height, number of leaves, tuber diameter, number of tuber, fresh weight of tuber with leaves and dry weight of tuber. Treatment of B1, B2, B3 and B4 concentration were not significant difference at plant height. However, those four treatments were significantly different compared to B0 and B5. The fives treatment differed with the control on characters of number of leaves, number of tuber andfresh weight of tuber with leaves. On character of tuber dry weight, B2 treatment was significant difference compared to control whereas the other treatments were not significantly differed. On character of tuber diameter, three treatments were significant difference compared to the control namely B2, B4 and B5. Keywords Allium ascalonicum L, biourine cow, fertilizer, growth and production ABSTRAK Penelitian bertujuan mengkaji respon pertumbuhan dan produksi bawang merah terhadap pemberian pupuk organik dari biourine sapi pada berbagai konsenrtasi dan mendapatkan konsentrasi terbaik untuk pertumbuhan dan produksi bawang merah. Penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan di Pandu, Kabupaten Minahasa Utara dari Mei hingga Juli 2014. Penelitian dirancang dengan menggunakan rancangan acak konsentrasi biourine sapi yaitu 0% B1 10%, B2 20%, B3 30%, B4 40% dan B5 50%.Setiap perlakuan diulang tiga kali. Karakter yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, diameter umbi, jumlah umbi, berat umbi segardengan daun dan berat umbi kering. Data dianalisis menggunakan analisis varian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi biourine memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, diameter umbi, jumlah umbi, berat umbi segardengan daun dan berat umbi kering dengan daun. Perlakuan konsetrasi B1, B2, B3 dan B4 tidak ada perbedaan yang signifikan pada tinggi tanaman. Namun, empat perlakuan berbeda secara signifikan dibandingkan dengan B0 dan B5. Lima perlakuan berbeda nyata dengan kontrol pada karakter jumlah daun, jumlah umbi dan berat segar umbi dengan daun. Pada karakter berat umbi kering dengan daun, perlakuan B2 berbeda secara signifikan dibandingkan dengan kontrol sedangkan perlakuan lainnya tidak berbeda secara signifikan. Pada karakter diameter umbi, tiga perlakuanyaitu B2, B4 dan B5memberikan pengaruh yang signifikan dibanding dengan kontrol. Kata kunci Allium ascalonicum L, biourine sapi, pemupukan, pertumbuhan dan produksi Volume 21 No. 3 Oktober 2015 143 PENDAHULUAN Bawang merah Allium ascalonicum L. merupakan salah satu komoditas utama sayurandi Indonesia dan mempunyai banyak manfaat. Bawang termasuk ke dalam kelompok rempah tidak bersubtitusi yang berfungsi sebagai bumbu pe-nyedap makanan serta bahan obat tradisional. Ber-dasarkan data dari the National Nutrient Database bawang merah memiliki kandungan karbohidrat, gula, asam lemak, protein dan mineral lainnya yang dibutuhkan oleh tubuh manusia Waluyo dan Sinaga, 2015 . Pengembangan bawang merah di Sulawesi Utara tersebar di beberapa kabupaten dan kota seperti Minahasa, Minahasa Selatan, Minahasa Tenggara, Minahasa Utara, Bolaang Mongondow, Bolang Mongondow Timur, Kota Kotamobagu dan Kota Bitung. Daerah-daerah ini tersebar di dataran rendah sampai dataran tinggi atau memiliki ketinggian tempat dari 0 – 800 mdpl Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara, 2014. Keberadaan hewan ternak di Sulawesi Utara, sebagian besar belum dikelola sesuai per-untukannya dan terkesan dipelihara secara liar ada yang diikat/dilepas pada lahan-lahan kosong. Ber-dasarkan hal tersebut di atas, maka dipandang perlunya sistem pertanian terpadu antara ternak dan sayuran yang dapat diterapkan di kawasan ini. Pertanian terpadu hortikultura dan ternak dapat mengurangi biaya produksi karena sisa sayuran akan dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sedang-kan kotoran ternak dapat dijadikan pupuk organic bagi tanaman hortikultura. Produksi umbi bawang merah dengan daun tahun 2012 di Sulawesi Utara sebesar 5,301 ton dengan luas panen sebesar 680 hektar dan rata-rata produktivitas sebesar 7,80 ton/ha. Pada tingkat Nasional, rata-rata produksi bawang merah mencapai 10,7 t/ha. Potensi hasil di tingkat Balai Penelitian Sayuran Balitsa Lembang untuk dua varietas Sembrani dan ditanam pada kebun visitor plot. Varietas Sembrani, potensi hasil 9,0-24,4 ton/ha, dan dapat beradaptasi dengan baik di dataran rendah dengan altitude 6-80 m dpl. Sedangkan varietas Trisula potensi hasil ton/ha Badan Litbang Pertanian, 2013b. Berdasar-kan data tersebut di atas menunjukkan produksi rata-rata bawang merah di Sulawesi Utara masih jauh berbeda dibandingkan dengan rata-rata Nasional maupun di tingkat Litbang Pertanian dan produksi masih berpeluang untuk dapat ditingkat-kan. Beberapa penelitian yang memanfaatkan biourine sapi sebagai pupuk organik yang dikom-binasikan dengan pupuk anorganik dapat mening-katkan hasil tanaman. Menurut Sutari 2010 bahwa biourine sapi dengan konsentrasi 200 ml/ha air menunjukkan hasil tanaman sawi hijau yang paling baik. Penelitian Adijaya 2008, kombinasi pupuk organik padat dan pupuk organik cair RB 5 t ha-1 + 7500 l ha-1 urine sapi, konsentrasi 20% memberi-kan produksi bawang merah tertinggi sebesar 10,37 ton ha-1 atau meningkat sebesar 60,77% dibanding-kan dengan tanpa pupuk organik. Penelitin ini bertujuan mengkaji respon pertumbuhan dan produksi bawang merah terhadap pemberian pupuk organik dari biourine sapi pada berbagai konsentrasi dan mendapatkan konsetrasi biourine sapi terbaik untuk pertumbuhan dan produksi bawang merah. METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan di Pandu selama tiga bulan terhitung mulai bulan Mei 2014 sampai dengan Juli 2014. Bahan digunakan pada penelitian ini yaitu bawang merah varietas Bima yang diperoleh dari pedagang benih di Pasar Bersehati Manado, pupuk Ponska, SP-36, Pupuk kotoran ayam, dan bahan untuk membuat biourie sapi urea, EM-4, temu-lawak, kunyit, jahe, gula pasir dan urin sapi segar. Alat yang digunakan berupa cangkul, sekop, meteran, timbangan, gelon sebagai wadah urine sapi, drum plastik berkapasitas 200 liter, gelas ukur, ember plastik, gembor, kamera dan alat tulis menulis. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok RAK. Susunan perlakuan terdiri atas 6 perlakuan dan 3 ulangan sehingga terdapat 18 plot dengan ukuran 4 m x 1,2 m. Masing-masing per-lakuan konsentrasi biourine adalah sebagai berikut Tandi, dkk. Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah ……….…….. 144 Kontrol B0, 10% B1, 20% B2, 30% B3, 40% B4 dan 50% B5. Prosedur Kerja Tahapan yang dilakukan dalam pelaksana-an penelitian ini adalah sebagai berikut Persiapan Kegiatan di awali dengan proses pembuatan urine segar menjadi biourine lewat fermentasi. Me-nurut Pustaka Indonesia 2008 proses pembuatan urine menjadi biourine dengan proses fermentasi 1 EM-4 sebagai stater fermenter 250 ml, gula pasir 1 kg, urea 1 kg dilarutkan dalam air jernih se-banyak 10 liter kemudian masukkan ke dalam drum yang berisi urine segar sebanyak 150 liter. 2 Lengkuas, kencur, kunyit, temulawak dan jahe masing-masing 0,5 kg dihancurkan dan masukan juga ke dalam drum urine. Setelah tercampur ke-mudian urine diaduk sampai rata selama 15 menit, kemudian drum plastik ditutup rapat. 3 Lakukan pengadukan setiap hari selama 15 menit dan kemudian drum ditutup rapat kembali selama tujuh hari. 4 Setelah tujuh hari urine dipompa dengan menggunakan pompa yang biasa dipakai pada aquarium untuk meniriskan urine dan dilewatkan melalui talang plastik dengan panjang 2 m yang dibuat seperti tangga selama 3 jam, tujuan proses ini untuk penipisan atau menguapkan kandungan gas amoniak, agar tidak berbahaya bagi tanaman yang akan diberi pupuk biourine tersebut. Kemu-dian pupuk cair ini siap digunakan. U rine sapi se-belum difermentasi warnanya coklat kekuning-kuningan, baunya masih berbau urine, tetapi se-telah difermentasi menjadi biourine warnanya ber-ubah menjadi coklat kehitam-hitaman, dan sudah tidak berbau urine. Pengolahan Tanah Lahan pertanian dibersihkan dari gulma dan tanaman pengganggu lainnya, kemudian diolah sampai gembur menggunakan traktor. Setelah itu dibuat plot percobaan ukuran 4 m x 1,2 m dengan ketinggian 20-30 cm, jarak antar bedengan adalah 40 cm. Luas plot percobaan adalah 4,8 m2. Pemupukan Pupuk dasar berupa pupuk kandang dari kotoran ayam 20 ton/ha diberikan 2 minggu se-belum penanaman sebanyak 9,6 kg/plot dan pupuk anorganik berupa ponska 300 kg/ha atau 144 g/plot diberikan 2 kali yaitu saat penanaman dan saat tanaman berumur 15 hst dan SP-36 100 kg/ha atau 48 g/petak diberikan saat penanaman atau pupuk dasar. Penamaman Penanaman dilakukan dengan cara ditugal dengan kedalaman 3-5 cm dan tiap lubang diisi 1 siung bawang. Bawang di tanam menggunakan jarak 20 x 20 cm Muku, 2002. Penyiraman Penyiraman dilakukan setiap hari dengan menggunakan gembor atau menyesuaikan dengan kondisi cuaca saat penanaman. Penyulaman Penyulaman dilakukan setelah tanaman berumur 7-10 hari sesudah tanam. Tujuannya untuk mengganti tanaman yang tidak tumbuh/mati. Ap likas i Bio u rine Biourine diberikan dalam bentuk beberapa konsentrasi sesuai perlakuan penelitan telah di-encerkan terlebih dahulu dengan air dan jumlah takaran yang diberikan adalah 7000 liter/ha Adijaya, 2008 atau 3,6 liter/plot. Pengambilan Sampel dan Pengamatan Karakter yang diamati adalah 1 Tinggi tanaman dilakukan mulai dari pangkal batang sampai ujung daun tertinggi yang diluruskan secara vertikal ke atas. Di ukur pada saat tanaman me-masuki umur panen; 2 Jumlah daun dengan cara menghitung jumlah daun per tanaman pada setiap perlakuan; 3 Diameter umbi bawang diukur dengan menggunakan jangka sorong pada saat panen; 4 Jumlah umbi bawang per petak dihitung pada saat panen; 5 Berat segar umbi dengan daun per petak ditimbang saat panen; 6 Berat umbi kering dengan daun per petak ditimbang setelah umbi dikering anginkan selama 2 minggu. Volume 21 No. 3 Oktober 2015 145 Analisis Data Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis sidik ragam dan jika terda-pat perbedaan antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil BNT pada taraf signifikan 5%. HASIL DAN PEMBAHASAN Tinggi Tanaman cm Berdasarkan hasil analisis sidik ragam p ABSTRACT The use of inorganic fertilizers to increase crop productivity can be suppressed by switching it to organic fertilizers. The abundance of cow urine waste can be used as organic fertilizer and to be used as biourine. This study was aimed at determining the effect of biofertilizers and molasses toward biourine quality and its effect on productivity of pakchoy. This research was conducted in UPT Compost Brawijaya University, and glasshouses in Sukapura Village, Probolinggo in August to November 2016. This research consisted of two steps. First production of biourine with the addition of organic material such as molasses, biofertilizers, and empon-empon namely turmeric, galangal, and Kaempferia galanga, which consists of 12 treatments with 3 replications arranged in a completely randomized design, and application of biourine on pakchoy consisting of 6 treatments control, doses of 200, 300, 400, 500, and 600 ml L-1 with three replications. The results of first step showed E1 treatment 10 L biourine + 30 ml + 750 ml molasses can improve N-total 860%, organic matter 282%, and population of microbe 1229% . The best biourine in first research E1 treatment was applied with dose 600 ml L-1 showed the best result. It showed to increase the number of leaves as much as 48% and the fresh weight of pakchoy by 405% when compared to no biourine treatment. Keywords biofertilizer, inceptisols, soil health, and population of microbe ABSTRAK Penggunaan pupuk anorganik untuk meningkatkan produktivitas tanaman dapat ditekan dengan beralih menggunakan pupuk organik. Melimpahnya limbah urin sapi dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik dengan dijadikan biourin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan pupuk hayati dan molase terhadap kualitas biourin dan pengaruhnya terhadap produktivitas pakchoy. Penelitian dilakukan di UPT Kompos Universitas Brawijaya, dan rumah kaca di Desa Sukapura, Probolinggo pada bulan Agustus sampai Nopember 2016. Penelitian dilakukan dalam 2 tahap, pertama pembuatan biourin dengan penambahan bahan organik berupa molase, pupuk hayati, dan empon-empon kunyit, lengkuas, dan kencur yang terdiri dari 12 taraf perlakuan dengan 3 ulangan pada Rancangan Acak Lengkap, dan kedua pengaplikasian biourin pada tanaman pakchoy yang terdiri dari 6 taraf perlakuan kontrol, dosis 200, 300, 400, 500, dan 600 ml L-1 dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian tahap pertama menujukkan perlakuan E1 10 L urin + 30ml pupuk hayati + 750ml molase mampu meningkatkan N-total 860%, bahan organik 282%, dan populasi mikroba sebesar 1229%. Aplikasi biourin terbaik pada penelitian tahap 1 perlakuan E1 dengan dosis 600 ml L-1 pada tanaman pakchoy menunjukkan hasil terbaik, ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah daun sebanyak 48% dan bobot basah tanaman sebesar 405% jika dibandingkan tanpa pemberian biourin. Kata kunci inceptisol, kesuburan tanah, mikroba, dan pupuk organik cair10 g, umbi benih sedang Ø = 1,5-1,8 cm atau 5-10 g, dan umbi benih kecil Ø = <1,5 cm atau <5 g Sumarni dan Hidayat 2005. Umbi besar dapat menyediakan cadangan makanan yang cukup untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan di lapangan. Menurut Sutono et al. 2007, umbi benih berukuran besar tumbuh lebih baik dan menghasilkan daun-daun lebih panjang, luas daun lebih besar, sehingga dihasilkan jumlah umbi per tanaman dan total hasil yang tinggi. Namun, penggunaan umbi benih yang berukuran besar berkaitan erat dengan total bobot benih yang diperlukan dan sekaligus memengaruhi biaya produksi untuk benih, sehingga menjadi lebih tinggi. Untuk mengefisiensikan biaya produksi benih, maka diperlukan penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan informasi ukuran diameter umbi yang optimum dan menekan biaya produksi untuk benih. Hipotesis dari penelitian ini dapat diketahui ukuran optimum diameter umbi benih bawang merah pada varietas Bima, Maja, dan Sumenep. BAHAN DAN METODEPenelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan November 2009 di Kebun Percobaan Margahayu Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang, dengan altitud m dpl. dan jenis tanah Andisol. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok, dua faktor tiga varietas dan tiga ukuran diameter umbi dengan enam ulangan. Faktor pertama ialah varietas yang terdiri atas varietas Bima, Maja, dan Sumenep, sedangkan faktor kedua ialah ukuran diameter umbi yang terdiri atas ukuran kecil K 1,04-1,29 cm, sedang S 1,47-1,67 cm, dan besar B 1,93-2,05 cm yang ditentukan melalui pengukuran acak dari umbi yang digunakan. Kombinasi perlakuan dan ukuran diameter umbi disajikan pada Tabel 1. Di Indonesia, standar nasional Indonesia SNI untuk benih bawang merah belum memuat standar untuk ukuran. Untuk keperluan penelitian ini, diterapkan gradasi ukuran benih sebagai berikut ukuran benih kecil, sedang, dan besar berdasarkan 10 contoh dengan hasil seperti ditampilkan pada Tabel 1. Prosedur Penelitian Untuk menyeragamkan pertumbuhan, sebelum ditanam sepertiga bagian atas umbi dipotong. Umbi ditanam dengan jarak tanam 20x15 cm dalam plot dengan luas 2 m2. Pupuk yang digunakan ialah pupuk kandang kuda 20 t/ha, Urea 200 kg/ha, SP36 200 kg/ha, KCl 200 kg/ha, ZA 500 kg/ha, dan dolomit 1,5 t/ha. Pupuk SP36 diberikan bersamaan dengan pupuk kandang pada waktu tanam, sedangkan pupuk susulan diberikan pada umur 2 dan 3 minggu setelah tanam MST, masing-masing setengah dosis N dan K. Peubah PengamatanBawang merah dipanen ketika daun dari 50% populasi tanaman telah terkulai ke permukaan tanah. Data diambil dari rerata lima tanaman contoh yang dipilih secara acak pada tiap plot, memiliki tanaman tetangga dan bukan tanaman pinggir. Parameter yang diamati pada waktu panen antara lain jumlah umbi, diameter umbi pada bagian terbesar umbi, bobot basah per rumpun, bobot basah per umbi, dan bobot basah per plot, sedangkan bobot kering per rumpun, bobot kering per umbi, dan bobot kering per plot diukur setelah bawang merah hasil panen dikeringanginkan selama 3 hari. 208J. Hort. Vol. 21 No. 3, 2011Analisis DataAnalisis sidik ragam data dilakukan menggunakan program PKBTStat-10. Jika terdapat perbedaan nyata antarrerata perlakuan, maka dilakukan uji lanjut Beda Nyata Jujur BNJ Tukey pada taraf 5%.HASIL DAN PEMBAHASANHasil sidik ragam menunjukkan terdapat interaksi antara varietas dengan ukuran umbi untuk parameter bobot kering per rumpun. Varietas memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap karakter jumlah umbi, diameter umbi, bobot basah per rumpun, bobot basah dan bobot kering per plot, dan bobot kering per umbi Tabel 2. Sementara, ukuran umbi berpengaruh nyata terhadap jumlah umbi, bobot kering per rumpun, bobot basah per plot, dan bobot kering per plot tetapi tidak berbeda nyata untuk diameter umbi, bobot basah per rumpun, bobot basah per umbi, dan bobot kering per umbi Tabel 3. Di antara varietas yang diuji, varietas Bima menghasilkan nilai tertinggi pada jumlah umbi, bobot basah, dan bobot kering per rumpun serta bobot basah dan bobot kering per plot, selanjutnya diikuti varietas Maja dan Sumenep. Varietas Maja menunjukkan nilai tertinggi untuk diameter umbi, bobot basah, dan bobot kering per umbi, sedangkan varietas Sumenep menunjukkan nilai terendah untuk semua parameter Tabel 2. Ketiga varietas bawang merah yang digunakan dapat tumbuh dengan baik di dataran tinggi Lembang m dpl., tetapi umur panennya lebih lama daripada ketika ditanam di dataran rendah. Umur panen varietas Bima dan Maja pada penelitian ini ialah 90 hari setelah tanam HST, sedangkan Sumenep dipanen pada umur 100 HST. Pada penelitian yang lain, varietas Bima dapat dipanen pada umur 70 HST pada ketinggian 560 m dpl. Sumiati 1996 dan varietas Maja pada umur 60 HST pada ketinggian 10 m dpl. Putrasamedja dan Soedomo 2007. Bawang merah merupakan tanaman berhari panjang, proses pembentukan umbi membutuhkan jumlah siang yang lebih panjang dibandingkan tanaman berhari pendek. Umbi bawang merah dapat terus membesar dan kemudian membentuk anakan ketika batas minimum panjang hari tercapai. Di sisi lain, suhu dataran tinggi yang lebih rendah dari dataran rendah membuat waktu yang dibutuhkan agar jumlah minimum panjang hari tercapai semakin lama. Menurut Lancaster et al. 1996, bawang bombay dapat terinisiasi berumbi ketika memenuhi batas minimum panjang hari 13,75 jam dan umbi terbentuk ketika jumlah derajat panjang hari telah melebihi 600 derajat hari. Jumlah umbi yang berbeda pada ketiga varietas tersebut dipengaruhi oleh faktor genetik masing-masing varietas. Menurut Budianto et al. 2009, heritabilitas dalam arti luas untuk jumlah umbi bawang merah kultivar Ampenan termasuk Tabel 1. Tiga ukuran diameter umbi benih dari tiga varietas yang digunakan dalam per-cobaan Three classes of seed bulb size of three varieties used in the experimentVarietasVarietiesUkuranSizeDiameter Diameter, cmRerata AverageMinimalMinimumMaksimal MaximumStandar deviasiDeviation standardBima K 1,14 0,98 1,26 0,10 S 1,63 1,39 1,77 0,13 B 1,95 1,68 2,28 0,20Maja K 1,29 1,03 1,54 0,14 S 1,67 1,46 1,97 0,16 B 2,05 1,73 2,21 0,15Sumenep K 1,04 0,97 1,17 0,07 S 1,47 1,27 1,63 0,12 B 1,93 1,68 2,28 0,19K = Kecil Small, S = Sedang Medium, B = Besar Large 209Azmi, C. et al. Pengaruh Varietas dan Ukuran Umbi terhadap Produktivitas Bawang Merah sedang 21,05%. Angka ini memberikan arti bahwa karakter jumlah umbi bawang banyak dipengaruhi oleh faktor genetik dan sedikit dipengaruhi oleh lingkungan. Hasil penelitian tersebut menjelaskan perbedaan jumlah umbi yang diperoleh dari ketiga varietas yang diuji dalam penelitian. Jumlah umbi varietas Bima mencapai 11,73 umbi Tabel 2. Angka ini mendekati potensi maksimum umbi varietas Bima 7-12 umbi per tanaman. Hal ini sejalan dengan penelitian Koswara 2007 yang menyatakan bahwa varietas Bima juga beradaptasi baik di lahan sulfat masam, sehingga varietas Bima diketahui beradaptasi luas, sedangkan jumlah umbi varietas Sumenep masih di bawah potensi hasilnya jika ditanam di dataran tinggi Tabel 2. Padahal potensi jumlah umbi varietas Sumenep dapat mencapai 12-14 umbi. Hal ini disebabkan karena fenotipik tanaman ditentukan oleh interaksi antara genetik varietas dan lingkungan. Penjelasan ini juga sesuai dengan penelitian Ambarwati dan Yudono 2003 bahwa varietas yang berdaya hasil tinggi di satu tempat belum tentu memberikan hasil yang tinggi di tempat lain. Diameter umbi yang berbeda pada ketiga varietas tersebut juga dipengaruhi oleh faktor genetik masing-masing varietas. Menurut Putrasamedja dan Soedomo 2007, selain lingkungan, besar umbi juga dipengaruhi oleh faktor genetik. Jika berbagai varietas ditanam di lahan yang sama, maka besar umbi tiap varietas juga Tabel 3 diketahui bahwa ukuran umbi besar menghasilkan nilai tertinggi untuk parameter jumlah umbi, diameter umbi, bobot basah, dan bobot kering per plot. Namun nilai ini tidak berbeda nyata dengan ukuran umbi sedang. Umbi benih berukuran sedang menghasilkan nilai tertinggi untuk parameter bobot basah per rumpun, bobot kering per rumpun, dan per umbi, sedangkan umbi benih berukuran kecil menghasilkan nilai tertinggi untuk parameter bobot basah per umbi. Penggunaan umbi benih berukuran sedang memberikan hasil yang tidak berbeda nyata dibandingkan dengan penggunaan umbi berukuran besar. Hasil penelitian ini sejalan dengan Maskar et al. 1999 bahwa ukuran umbi benih tidak memengaruhi pertumbuhan vegetatif dan komponen produksi bawang merah varietas Lokal Palu Limbongan dan Maskar 2003. Meskipun tidak berbeda nyata, diameter umbi meningkat seiring dengan makin besarnya umbi benih yang digunakan Tabel 3. Kondisi ini senada dengan yang terjadi pada bawang bombay yang menunjukkan bahwa diameter umbi semakin besar ketika ukuran umbi benih yang digunakan juga makin besar Sumiati dan Sumarni 2006, Ashrafuzzamani et al. 2009. Diameter umbi hasil dari ketiga kelompok ukuran menunjukkan nilai rerata yang tidak berbeda nyata dengan ukuran lebih dari 2 cm, Tabel 3. Hasil ini memenuhi karakteristik utama umbi bawang merah yang disukai petani, yaitu umbi berbentuk bulat, berwarna merah tua, berdiameter sekitar 2 cm, dan beraroma menyengat Basuki 2009a, 2009b, dan 2009c Gambar 1. Interaksi yang berbeda pada taraf 5% terjadi antara varietas dan diameter umbi untuk bobot kering per rumpun Tabel 4. Hal ini disebabkan karena perbedaan varietas. Varietas yang berbeda memberikan nilai susut bobot yang berbeda pula Brewster 1994, Basuki 2005. Tabel 2. Rerata jumlah umbi, diameter umbi, bobot basah per rumpun, per umbi, per plot, serta bobot kering per umbi dan per plot pada tiga varietas Average number of bulb, bulb diameter, fresh weight per plant, as well as per bulb and per plot, and dry weight per bulb and per plot of three varieties VarietasVarietiesJumlah umbi bulbDiameter umbiBulb diametermmBobot basah Fresh weight, gBobot kering Dry weight, gRumpun PlantUmbiBulbPlotPlotUmbiBulbPlotPlotBima 11,73 a 20,89 b 76,33 a 6,70 a a 5,19 b aMaja 7,60 b 24,20 a 60,31 b 7,87 a b 6,71 a bSumenep 5,77 c 17,23 c 40,00 c 7,00 a b 5,25 b 967,78 c 210J. Hort. Vol. 21 No. 3, 2011Tabel 3. Rerata jumlah umbi, diameter umbi, bobot basah per rumpun, per umbi, dan per plot, dan bobot kering per umbi dan per plot pada tiga ukuran umbi benih Average number of bulb, bulb diameter, fresh weight per plant, as well as per bulb, and per plot, and dry weight per bulb and per plot of three bulb seed size Ukuran umbiBulb sizeJumlah umbi bulbDiameter umbiBulb diametermmBobot basah Fresh weightgBobot kering Dry weightgRumpun PlantUmbiBulbPlotPlotUmbiBulbPlotPlotKecil Small 7,30 b 20,64 a 54,89 a 7,56 a b 5,81 a 987,78 bSedang Medium 8,61 a 20,78 a 61,87 a 7,24 a a 5,84 a aBesar Large 9,19 a 20,91 a 59,89 a 6,77 a a 5,50 a aPada penelitian ini, varietas Bima, Maja, dan Sumenep masing-masing memiliki susut bobot sebesar 41,5, 36,8, dan 35,4%. Varietas Sumenep memiliki susut bobot terendah dibandingkan kedua varietas lainnya yakni 35,4%. Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan Gunadi dan Suwandi 1989 dalam Kusmana et al. 2009, varietas Sumenep mengalami susut bobot sebesar 37,1-42%. Susut bobot yang relatif rendah ini kemungkinan disebabkan karena bawang merah varietas Sumenep secara genetik memiliki aroma yang lebih tajam dibandingkan varietas Bima dan Maja dan memiliki padatan terlarut yang relatif tinggi, sehingga ketika dikeringkan susut bobotnya relatif kecil. Hal ini sesuai dengan Freeman dan Whenham 1976 dalam Putrasamedja dan Soedomo 2007 bahwa aroma yang tajam pada bawang merah berkorelasi positif dengan jumlah padatan terlarut dan menurut Histifarina dan Musaddad 1998 jumlah padatan terlarut berbanding terbalik dengan kadar air dan susut bobot bawang merah. Oleh karena itu bawang merah varietas Sumenep yang memiliki aroma yang lebih tajam dibandingkan varietas Bima dan Maja memiliki padatan terlarut yang lebih banyak dan susut bobot yang lebih kecil dari keduanya. Gambar 1. Keragaan umbi benih Performance of bulb a kecil small, b sedang medium, c besar dengan hasil yang diperoleh dari large seed bulb with yield fromd benih ukuran kecil small, e benih ukuran sedang medium, dan f benih ukuran besar pada 4 hari setelah panen large seed bulb on 4 days after harvest abcd e f 211Azmi, C. et al. Pengaruh Varietas dan Ukuran Umbi terhadap Produktivitas Bawang Merah Pada penelitian yang lain, Sumiati 1996 melaporkan bahwa bawang merah varietas Bima memiliki susut bobot yang lebih tinggi daripada yang dihasilkan pada penelitian ini yang sebesar 64,3%. Perbedaan ini kemungkinan akibat perbedaan tempat dan musim tanam. Sumiati 1996 menanam bawang pada bulan Juni sampai dengan September 1994 di daerah dengan ketinggian 560 m dpl., suhu rerata ± 24˚C, rerata amplitudo suhu ± 4˚C, dan tanaman dipanen ketika berumur 70 HST, sedangkan penelitian ini berlangsung pada bulan Agustus sampai dengan November 2009 di daerah dengan ketinggian m dpl., suhu rerata ± 20˚C, rerata amplitudo suhu ± 9˚C, dan tanaman dipanen pada umur 90 HST. Hal yang berbeda dihasilkan dari penelitian yang dilakukan oleh Putrasamedja dan Soedomo 2007. Bawang merah varietas Maja yang ditanam memiliki susut bobot sebesar 20,13%. Angka susut bobot varietas Maja pada penelitian Putrasamedja dan Soedomo 2007 lebih rendah 16,67% dari susut bobot yang dihasilkan pada penelitian ini 36,8%. Penelitian tersebut dilakukan pada bulan Desember 2006 sampai dengan Februari 2007 di daerah dengan ketinggian 10 m dpl., suhu rerata ± 27˚C, rerata amplitudo suhu ± 9,5˚C, dan tanaman dipanen pada umur 60 HST. Faktor amplitudo suhu yang memengaruhi hasil dua penelitian yang berbeda pada varietas Bima dan Maja tidak terjadi pada varietas Sumenep. Hal ini kemungkinan secara genetik varietas Sumenep lebih stabil dibandingkan kedua varietas lainnya, sehingga varietas Sumenep sedikit dipengaruhi faktor lingkungan amplitudo, sedangkan varietas Bima dan Maja dominan dipengaruhi oleh lingkungan. Makin besar amplitudo suhu, berarti suhu siang hari makin tinggi dan suhu malam/pagi hari makin rendah. Suhu siang hari yang tinggi mendukung tanaman berfotosintesis dan menghasilkan fotosintat yang diakumulasi sebagai padatan terlarut dalam umbi. Pernyataan ini sesuai dengan Brewster 1994 bahwa banyaknya cahaya yang diterima daun selama masa pengumbian dapat meningkatkan padatan terlarut dalam umbi bawang. Makin tinggi padatan terlarut dalam umbi, maka makin rendah susut bobotnya. Varietas Bima menghasilkan bobot kering per rumpun signikan lebih tinggi untuk diameter umbi kecil dan sedang dibandingkan dengan varietas Sumenep, tetapi tidak berbeda signikan dengan varietas Maja. Untuk umbi berdiameter besar, bobot kering per rumpun tertinggi dihasilkan oleh varietas Maja. Hasil ini tidak berbeda nyata dengan varietas Bima, tetapi berbeda nyata dengan varietas Sumenep Tabel 4.Makin besar ukuran umbi benih, maka makin besar pula kebutuhan benih per hektar dan biaya yang dibutuhkan untuk pembelian umbi benih bawang merah. Berdasarkan efisiensi biaya, penggunaan umbi benih bawang merah berukuran sedang dapat digunakan untuk menghasilkan produksi yang tidak berbeda dengan penggunaan umbi benih berukuran besar. Ukuran benih umbi sedang pada penelitian ini menghasilkan bawang merah dengan ukuran umbi yang masih dapat diterima petani, karena ukurannya masih dalam kisaran 2 harga benih diasumsikan dan jarak tanam 10 x 20 cm, perhitungan biaya dan esiensi penggunaan umbi benih bawang merah berukuran besar kemudian menggunakan benih berukuran sedang, atau kecil disajikan secara rinci pada Tabel 4. Produktivitas umbi benih berukuran sedang, tidak berbeda nyata dengan ukuran besar Tabel 3, hal ini berarti Tabel 4. Interaksi varietas dan ukuran umbi pada bobot kering per rumpun Interaction between variety and bulb size based on dry weight per plant VarietasVarietiesUkuran umbi Bulb sizeKecilSmallSedangMediumBesarLargeBima 58,00a 62,33a 56,67aA A AMaja 39,67ab 52,67ab 62,00aA A ASumenep 27,67b 34,67b 27,67bA A A 212J. Hort. Vol. 21 No. 3, 2011dapat menghemat biaya pembelian benih bawang merah antara 14-16,5 juta rupiah Tabel 5, atau esiensi sekitar 33-40% per umumnya petani menggunakan benih hasil perbanyakan sendiri atau dari penangkar yang belum menggunakan standar ukuran benih. Idealnya benih yang seragam dipergunakan dalam produksi untuk memperoleh kestabilan hasil. Berdasarkan standar nasional Indonesia SNI untuk benih dasar BD dan benih sebar BS tidak ditemukan syarat pengkelasan mutu berdasarkan ukuran umbi, sedangkan untuk umbi konsumsi, umbi bawang merah berdiameter minimal 1,7 cm dimasukkan dalam mutu I dan bawang berdiameter minimal 1,3 cm termasuk dalam mutu II. Dari hasil penelitian ini, para penangkar benih dapat mengelompokkan umbi benih bawang merah sesuai ukuran dan menjual atau memakai umbi berukuran sedang sebagai umbi benih dan menjual umbi berukuran besar sebagai bawang konsumsi. Petani diuntungkan dua kali ketika menggunakan umbi berukuran sedang. Pertama, keuntungan diperoleh dari penghematan biaya produksi untuk benih jika benih diperoleh dengan membeli. Namun petani memperoleh hasil yang sama dengan penggunaan umbi berukuran besar. Kedua, petani dapat menjual umbi berukuran besar untuk konsumsi dengan harga yang lebih tinggi, karena umbi ukuran ini masuk kelas I dan memakai sendiri umbi berukuran sedang sebagai Varietas dan ukuran umbi memberikan pengaruh yang nyata pada parameter yang Jumlah umbi terbanyak dihasilkan oleh varietas Bima, sedangkan ukuran diameter umbi terbesar dihasilkan oleh varietas Ukuran umbi sedang dan besar memberikan hasil yang tidak berbeda Penggunaan umbi benih bawang merah berukuran sedang Bima 1,39-1,77 cm, Maja 1,46-1,97 cm, Sumenep 1,27-1,63 cm dapat digunakan untuk produksi bawang merah yang dapat menekan biaya produksi untuk benih sekitar 33-40%.UCAPAN TERIMA KASIHUcapan terima kasih kami sampaikan kepada Hibah Program Sinergi Penelitian Pengembangan Bidang Pertanian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atas dana yang diberikan. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Prof. Dr. Bambang Subiyanto atas bimbingan dan masukan terhadap penulisan hasil penelitian ini. Tabel 5. Analisis esiensi penggunaan tiga kelompok ukuran benih tiga varietas bawang merah Analysis of efciency on utilization of three class bulb seed size on shallots VarietasVarietyUkuran umbiBulb sizeReratabobot per umbiAverage weight of per bulbgKebutuhan benihper haSeed/hakgBiayauntuk benihSeed costRpPenghematan*SavingRp %BimaK 1,31 654,5 70,42S 2,83 36,06B 4,43 0 0,00MajaK 1,28 642 70,75S 2,93 33,23B 4,39 0 0,00SumenepK 1,04 521 2,45 1223,5 4,09 2046 0 dengan kelompok ukuran benih sedang Was compared to medium bulb seed. Asumsi harga benih Seed price assumption K = Kecil Small, S = Sedang Medium, B = Besar Large 213Azmi, C. et al. Pengaruh Varietas dan Ukuran Umbi terhadap Produktivitas Bawang Merah PUSTAKA1. Ambarwati, E. dan P. Yudono. 2003. Keragaan Stabilitas Hasil Bawang Merah. Ilmu. 102 Ashrafuzzamani, M., M. Nasrul Millat, M. Razi Ismail, M. K. Uddin, S. M. Shahidullah, and Sariah Meon. 2009. Paclobutrazol and Bulb Size Effect on Onion Seed Production. Int. J. Agric. Biol. 113 Basuki, R. S. 2005. Penelitian Daya Hasil dan Preferensi Petani terhadap Varietas Bawang Merah Lokal dari Berbagai Daerah. Laporan Hasil Penelitian APBN 2005 ROPP D1. 8 _________. 2009a. Analisis Tingkat Preferensi Petani Brebes terhadap Karakteristik Hasil dan Kualitas Bawang Merah Varietas Lokal Asal Dataran Medium dan Tinggi. J. Hort. 194 _________. 2009b. Analisis Tingkat Preferensi Petani terhadap Karakteristik Hasil dan Kualitas Bawang Merah Varietas Lokal dan Impor. J. Hort. 19 2 _________. 2009c. Preferensi Petani Brebes terhadap Klon Unggulan Bawang Merah Hasil Penelitian. J. Hort. 193 _________. 2010. Sistem Pengadaan dan Distribusi Benih Bawang Merah pada Tingkat Petani di Kabupaten Brebes. J. Hort. 202 Brewster, 1994. Onions and Other Vegetable Alliums. CAB International, Cambridge. 236 Budianto, Aris, Ngawit, dan Sudika. 2009. Keragaman Genetik Beberapa Sifat dan Seleksi Klon Berulang Sederhana pada Tanaman Bawang Merah Kultivar Ampenan. Crop Agro. 21 Histifarina, D. dan D. Musaddad. 1998. Pengaruh Cara Pelayuan Daun, Pengeringan, dan Pemangkasan Daun terhadap Mutu dan Daya Simpan Bawang Merah. J. Hort. 81 Koswara, E. 2007. Teknik Pengujian Daya Hasil Beberapa Varietas Bawang Merah di Lahan Pasang Surut Sumatera Selatan. Bul. Teknik Pert. 112 Kusmana, R. S. Basuki, dan H. Kurniawan. 2009. Uji Adaptasi Lima Varietas Bawang Merah Asal Dataran Tinggi dan Medium pada Ekosistem Dataran Rendah Brebes. J. Hort. 193 Lancaster, J. E., C. M. Triggs, J. M. De Ruiter, and P. W. Gandar. 1996. Bulbing in Onions Photoperiod and Temperature Requirements and Prediction of Bulb Size and Maturity. Annals Botany. 78 Limbongan, J. dan Maskar. 2003. Potensi Pengembangan dan Ketersediaan Teknologi Bawang Merah Palu di Sulawesi Tengah. J. Litbang Pert. 223 Maskar, Sumarni, A. Kadir, dan Chatijah. 1999. Pengaruh Ukuran Bibit dan Jarak Tanam terhadap Hasil Panen Bawang Merah Varietas Lokal Palu. Prosiding Seminar Nasional. Palu, 3-4 November 1999. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Hlm Nurasa, T. dan V. Darwis. 2007. Analisis Usahatani dan Keragaan Marjin Pemasaran Bawang Merah di Kabupaten Brebes. J. Akta Agrosia. 101 Putrasamedja, S. dan P. Soedomo. 2007. Evaluasi Bawang Merah yang Akan Dilepas. J. Pembangunan Pedesaan. 73 Sumarni, N. dan A. Hidayat. 2005. Panduan Teknis Budidaya Bawang Merah. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 20 Sumiati, E. 1996. Konsentrasi Optimum Mepiquat Klorida untuk Peningkatan Hasil Umbi Bawang Merah Kultivar Bima Brebes di Majalengka. J. Hort. 62 _______. dan N. Sumarni. 2006. Pengaruh Kultivar dan Ukuran Umbi Bibit Bawang Bombay Introduksi terhadap Pertumbuhan, Pembungaan, dan Produksi Benih. J. Hort. 161 Sutono, S., W. Hartatik, dan J. Purnomo. 2007. Penerapan Teknologi Pengelolaan Air dan Hara Terpadu untuk Bawang Merah di Donggala. Balai Penelitian Tanah. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. 41 Thamrin, M., Ramlan, Armiati, Ruchjaniningsih, dan Wahdania. 2003. Pengkajian Sistem Usahatani Bawang Merah Di Sulawesi Selatan. J. Pengkajian dan Pengemb. Teknol. Pert. 62141-153. ... Jumlah umbi bawang merah pada perlakuan kompos tablet 20 ton/ha menunjukan jumlah paling tinggi dan telah sesuai dengan potensi dari bawang merah varietas Bima. Menurut Azmi et al. 2011 yang menyatakan bahwa jumlah umbi bawang merah varietas Bima mencapai Potensi maksimum jumlah umbi bawang merah adalah 7 -12 umbi per tanaman. ...... Selain faktor kesediaan unsur hara, ukuran diameter umbi juga dipengaruhi oleh faktor genetik. Menurut Azmi et al. 2011 yang menyatakan bahwa fenotipik tanaman dipengaruhi oleh dua unsur yaitu genetik dan kondisi lingkungan. Menurut Kartinaty et al. 2018 yang menyatakan bahwa diameter umbi bawang merah varietas Bima yang ditanam di Kalimantan Barat adalah mm atau setara dengan cm. ...Zakiyuddin AhmadChintya RamadhaniChintia Damayani Parangin Angin Eny FuskhahPenelitian ini untuk mengetahui hasil produksi tanaman bawang merah dan kandungan vitamin C umbi melalui perlakuan pemberian pupuk kompos diperkaya mineral dan Trichoderma sp. Penelitian disusun menggunakan rancangan acak lengkap monofaktor 6 perlakuan dan 4 ulangan dengan perlakuan tanpa pemberian pupuk, pupuk NPK mutiara 250 kg/ha, kompos tablet 5 ton/ha, kompos tablet 10 ton/ha, kompos tablet 15 ton/ha, dan kompos tablet 20 ton/ha. Parameter yang diamati adalah, jumlah umbi, diameter umbi, berat kering umbi, berat kandungan vitamin C umbi. Data pengamatan dianalisis dengan ANOVA dilanjutkan uji DMRT. Hasil penelitian menunjukan perlakuan pemberian pupuk kompos tablet diperkaya mineral dan Trichoderma sp. tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun, dan diameter umbi bawang merah. Namun pemberian pupuk kompos tablet diperkaya mineral dan Trichoderma sp. pada dosis kompos tablet 20 ton/ha berpengaruh terhadap jumlah umbi, bahan kering tajuk, dan bahan kering umbi.... Pengaturan jarak tanam pada hakekatnya adalah pengaturan ruang hidup sehingga persaingan terhadap unsur hara, air, sinar matahari antar individu tanaman dapat ditekan. Menurut Azmi et al., 2016, bahwa jarak tanam lebih rapat kemungkinan terjadi persaingan tanaman untuk mendapatkan air, unsur hara dan sinar matahari lebih besar, akibatnya aktivitas fotosisntesis menurun sehingga sintesi dan translokasi makanan ke dalam bunga dan buah menjadi kecil. ...... Dengan penerimaan cahaya yang banyak, maka aktivitas fotosistesis juga lebih tingg, sehingga energi yang ada juga semakin beasar akibatnya meningkatkan produksi. Menurut Azmi et al., 2016 bahwa produksi susatu tanaman ditentukan oleh aktivitas dalam sel dan jaringan tanaman. ... Gighih Wisnu Jaya PamungkasMS Prijo RahardjoIr. Junaidi MPThe narrowing of the agricultural area forces people to think about making maximum use of the existing land while multiplying the outputs, for example, by the verticulture system. There are several models in this system depending on the planting system to be adjusted to the size of the available land. They consist of a single pot system, hanging, horizontal, terraced or vertical. For a strictly limited yard area, it seems that a hanging or vertical single pot system is more suitable. Meanwhile, only vertical and hanging systems are suitable for flats or apartments, because the yard is relatively non-existent. This research focused on the planting of shallots by the verticulture system at various sizes of polybags and the various planting distance between the racks. This research used a factorial design based on a randomized block design consisting of two factors. The results of the study concluded that there was an interaction between the treatment of polybags size and the planting distance between the shelves in the growth parameters, namely plant height at age 21 and 28 days after planting DAP. The number of leaves had significant interactions at the age of 28 and 35 DAP. Meanwhile, for the production parameters of wet weight and dry weight of plants, the combination of P2 R2 and P3 R3 treatments gave the highest yield on the parameters of plant height, the number of leaves, wet weight of stover and dry weight of stover. Separately, the P2 and P3 polybag size treatments gave the highest yields on the parameters of the number of tubers per plant. While the distance between treatment racks R2 and R3 gave the highest results. Dengan semakin menyempitnya areal pertanian, maka perlu kita pikirkan bagaimana memanfaatkan lahan yang ada secara maksimal dan hasilnya berlipat ganda. Misalnya dengan sistem vertikultur. Sistem ini ada beberapa model seperti yang diungkapkan oleh Lukman, 2011, yaitu sistem penanaman yang dipilih sebaiknya disesuaikan dengan luas tidaknya lahan yang tersedia. Apakah sistem pot tunggal, gantung, horizaontal bertingkat maupun vertikal, Tetapi untuk halaman yang sangat terbatas luasnya, agaknya sistem pot tunggal gantung atau vertikal lebih sesuai. Sementara untuk rumah susun hanya sistem vertikal dan gantung yang sesuai, karena halamannya relatif tidak ada. Bils ysng dipilih tepat, lingkungan rumah akan tampak hijau tapi tidak terkesan menyita tempat. Dari permasalahan di atas, maka dalam penelitian ini akan dicoba upaya penenaman bawang merah dalam sistem vertikultur pada berbagai ukuran polibag dan jarak antar rak. Percobaan ini menggunakan rancangan faktorial yang disusun berdasarkan rancangan acak kelompok yang terdiri dari dua faktor. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut Terjadi intersaksi antara perlakuanukuran polibag dengan jarak antar rak pada parameter pertumbuhan yaitu tinggi atanaman umur 21 dan 28 HST interaksi sangat nyata dan umur 35 HST interaksi nyata. Parater jumlah daun interaksi nyata pada umur 28 dan 35 HST. Sedangkan pada parameter produksi berat basah dan berat kering tanaman. Kombinasi perlakuan P2 R2 dan P3 R3 memberikan hasil tertinggi pada parameter tinggi tanaman, jumlah daun, berat basah brangkasan dan berat kering terpisah pada perlakuan ukuran polibag P2 dan P3 memberikan hasil yang tertinggi pada parameter jumlah umbi per tanaman. Sedangkan jarak antar rak perlakuan R2 dan R3 memberikan hasil yang tertinggi.... Perlakuan jarak tanam 10 cm x 20 cm pada kombinasi biochar memperlihatkan bobot tanaman yang tertinggi pada tanaman bawang merah Hidayatullah et al., 2021. Menurut penelitian Azmi et al. 2011 bawang merah merupakan tanaman hari panjang, proses pembentukan umbi lebih lama dibandingkan tanaman hari pendek. Bawang merah dapat terus tumbuh untuk menghasilkan cabang ketika panjang hari minimum tercapai. ...Amanda Iktacia NolaTaufan HidayatJumini JuminiAbstrak. Penelitian ini memiliki tujuan bagaimana mengidentifikasi pengaruhnya jarak tanam dan dosis kompos ampas kopi terhadap pertumbuhan dan produksi bawang merah. Riset ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok RAK faktorial 4 x 3 yang 3 pengulangan. Faktor yang diperhatikan yakni jarak tanamnya yang berisikan 3 taraf yakni 10 cm x 15 cm, 15 cm x 25 cm, dan 20 cm x 30 cm dan penambahan dosis kompos ampas kopi yang berisikan 4 taraf kontrol, 15, 30, dan 45 ton ha-1. Hasil riset memperlihatkan bahwasanya jarak tanam memiliki pengaruh yang nyata terhadap potensi hasil. Produksi tanaman terbaik ditemui di perlakuan berjarak tanam 10 cm x 20 cm. Dosis kompos ampas kopi berpengaruh sangat nyata pada tingginya tumbuhan berumur 2, 4, dan 6 MST, diameter umbi, bobot kering umbi per rumpun, dan produksi tanaman. Pertumbuhan dan hasil bawang merah paling baik ditemukan dalam perlakuan kontrol tanpa kompos. Ada interaksi yang sangat nyata terhadap tinggi tanaman 2, 4, dan 6 MST, diameter umbi, bobot kering umbi per rumpun dan interaksi nyata terhadap potensi hasil. Pertumbuhan dan produksi bawang merah terbaik ditemui di penggabungan perlakuan jarak tanam 10 cm x 20 cm yang berperlakuan kontrol tanpa kompos ampas kopi.Kata kunci Ampas kopi, Bawang merah, Jarak tanam, KomposAbstract. The aim of tis study is to find out the effect of planting distance and the dose of coffee pulp compost on the growth and production of onions. Method that used in this study is a Randomized Design Group of 4 x 3 factorial patterns with 3 repeats. Factors studied were planting distance consisting of 3 levels 10 cm x 15 cm, 15 cm x 25 cm, and 20 cm x 30 cm and a dose of coffee pulp compost consisting of 4 levels control, 15, 30, and 45 tons ha-1. The results showed that planting distance has a very real effect on the potential of results. The best potential results are found in the treatment of planting distance of 10 cm x 20 cm. The compost dose of coffee grounds has a very noticeable effect on the height of plants aged 2, 4, and 6 WAP, bulb diameter, dry weight of bulbs per clump, and potential yield. The best onion growth and results are found in the control treatment without compost. There is a very noticeable interaction with plant height of 2, 4, and 6 WAP, bulb diameter, dry weight of bulbs per clump and real interaction of potential yields. The best growth and production of onions is found in the combination of 10 cm x 20 cm planting distance treatment with control treatment without coffee grounds compost.... Pengaplikasian giberelin dapat berhasil jika dilihat dari jenis tanaman, varietas, dan kondisi tanaman tersebut Lakitan, 1990. Azmi et al. 2011 menyatakan varietas Bima Brebes, Sumenep dan Maja memiliki diameter berbeda karena adanya pengaruh faktor genetik dari setiap varietas. Putrasamedja 2007 menyatakan diameter umbi tidak hanya dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. ...Farah ZairinaMarai RahmawatiMardhiah HayatiBawang merah memiliki harga jual yang tinggi di pasaran. Penggunaan giberelin pada beberapa varietas bawang merah merupakan faktor pendukung dalam berhasilnya budidaya bawang merah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari kedua faktor yang diteliti yaitu konsentrasi giberalin dan varietas, serta interaksi antara kedua faktor tersebut. Pelaksanaan penelitian dilakukan di Kebun Percobaan dua dan Laboratorium Hortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala dari Juni hingga Agustus 2021. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial 3 x 3 dengan tiga ulangan. Faktor yang diteliti yaitu konsentrasi giberelin 0 ppm, 125 ppm, dan 250 ppm dan tiga varietas Bima Brebes, Tajuk, dan Vietnam. Hasil penelitian memperlihatkan, konsentrasi giberelin berpengaruh nyata pada tinggi tanaman umur 40 HST. Tanaman tertinggi dijumpai pada perlakuan kontrol. Tinggi tanaman umur 70 HST tertinggi pada varietas Tajuk. Jumlah anakan per rumpun umur 30, 40, 50, 60 dan 70 HST, dan jumlah umbi per rumpun tertinggi pada varietas Bima Brebes. Tidak terdapat interaksi yang nyata antara kedua faktor yang diteliti. The Effect of Gibberellin Concentration on Growth and Yield of Several Shallot Allium ascalonicum L. VarietiesShallots are commodities that have a high selling value in the market. The use of gibberellins in several shallot varieties is a supporting factor to the success of shallot cultivation. The purpose of this research is to appropriate concentration of gibberellins and varieties, as well as the interaction between these two factors on the growth and yield of shallots. This research was conducted in Experimental Garden 2 and Horticulture Laboratory, Agriculture Faculty, Syiah Kuala University during June until August 2021. This research used a 3 x 3 factorial randomized block design that repeated three times. The factors researched was the concentration of gibberellins 0 ppm, 125 ppm, 250 ppm and three shallot varieties Bima Brebes variety, Tajuk variety, and Vietnam variety. The results showed, that the concentration of gibberellins significant to plant height on 40 DAP. The highest plants were found in the control treatment. The highest plant at 70 DAP was found in Tajuk variety. The best number of saplings per clump on 30, 40, 50, 60, and 70 DAP, and the number of bulbs per clump on Bima Brebes variety. There was no interaction between the concentration of gibberellins and shallot varieties on all observed variables.... an terjadi Luta, 2020. Varietas bima dapat beradaptasi baik di lahan sulfat masam, sehingga varietas bima mampu beradaptasi dengan luas dikarenakan fenotipik tanaman ditentukan oleh interaksi antara genetik varietas dengan lingkungan. Varietas yang berdaya hasil tinggi di suatu temoat belum tentu memberikan hasil yang sama ditempat lain Azmi, et. al, 2011 ...Luta Devi AndrianiSiregar MaimunahWahyuni Sri Br. PAGrowth of shallot plants could be increased through good plant cultivation such as using organic materials that can improve physical, chemical and biological properties in the soil and contain macro and micronutrients so that organic matter is needed in the form of municipal waste compost. The research objective was to study the responsiveness of the growth of onion varieties due to the application of municipal waste compost. This research was carried out in the Bandar Senembah village Binjai district Barat in February-March 2019. The study used a randomized block design RAK with 2 factors and 3 blocks. The first factor is the variety V and the second factor is Municipal waste compost K. The results showed that that the best varieties are varieties Bima Brebes. Where the variety showed the highest leaf length per sample and highest number of tillers per sample while the application of municipal waste compost does not show a significant effect on parameters of leaf length per sample but for the number of tillers per sample shows a significant effect where the best results in the application of 3 kg/m2 plot municipal waste compost. REFERENCES Ahmed, M. E., El-Kader, N. I. A. & Derbala, 2009. Effect of Irrigation Frequency and Potassium Source on the Productivity, Quality, and Storability of Garlic. Australian Journal Of Basic and Applied Sciences, 34, 4490–4497. Alfian, D. F., Nelvia & Yetti, H. 2015. The Effect of Potassium Fertilizer and Compost Mixture of Oil Palm Empty Bunches with Boiler Ash on Growth and Yield of Onion Allium ascalonicum L.. Jurnal Agroekoteknologi, 52, 1-6. Amiroh, A. 2017. Pengaplikasian dosis pupuk bokashi dan KNO3 terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman melon Cucumis melo L.. Jurnal Saintis, 91, 25 - 36. Arisha, H. M. E.,. Ibraheim, S. K. A & El-Sarkassy, N. M. 2017. The response of garlic Allium sativum L. yield, volatile oil, and nitrate content to foliar and soil application of potassium fertilizer under sandy soil conditions. Middle East Journal of Applied Sciences, 71, 44-56. Aslamiah, I. D., dan Sularno. 2017. The response of growth and production of peanut plants of the addition of organic fertilizer concentration and reduction of an organic fertilizer dosage. Prosiding Seminas Nasional Fakultas Pertanian UMJ. BPS. 2018. Statistik Indonesia. Badan Pusat Statistik Republik Indonesia, Jakarta. Gunadi, N. 2009. Kalium sulfat dan kalium klorida sebagai sumber pupuk kalium pada tanaman bawang merah. Jurnal Hortikultura, 192,174-185. Hickey, M. 2012. Growing Garlic in NSW Second Edition. Primefact 259. Department of Primary Industries. NSW Government. Australia. Hilal, Selim, & El-Neklawy, 1992. Enhancing and retarding effect of combined sulfur and fertilizer applications on crop production in different soils. In Proceedings Middle East Sulphur Symposium 12-16 February, Cairo, Egypt. Marschner, P. 2012. Mineral Nutrition of Higher Plants Third Edition. Elsevier Ltd. Oxford. Nainwal, R. C., Sigh, D., Katiyar, R. S., Sharma, I & Tewari, S. K. 2015. The response of garlic to integrated nutrient management practices in a sodic soil of Uttar Pradesh, India. Journal of Spices and Aromatic Crops, 241, 33-36. Putra, A. A. G. 2013. Kajian aplikasi dosis pupuk ZA dan kalium pada tanaman bawang putih Allium sativum L.. Jurnal Ganec Swara, 72, 10–18. Setiawati, W., Murtiningsih, R., Sopha, G. A & Handayani, T. 2007. Petunjuk Teknis Budidaya Tanaman Sayuran. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Shafeek, M. R., Nagwa, M. H., Singer, S. M., & El-Greadly, N. H. 2013. Effect of potassium fertilizer and foliar spraying with Ethereal on plant development, yield, and bulb quality of onion plants Allium cepa L. Journal of Applied Sciences Research, 92, 1140-1146. Sholihin, Y., Suminar, E., Rizky, & Pitaloka, 2016. Meristem explants growth of garlic Allium sativum L. Cv. tawangmangu on various compositions of kinetin and ga3 in vitro. Jurnal Kultivasi, 153, 172–179. Sulichantini, E. D. 2016. Effect of plant growth regulator Concentration Against Regeneration Garlic Allium sativum L In the Tissue Culture.. Jurnal Agrifor, 151, 29–38. Suminarti, 2010. The Effects of N and K Fertilization on the Growth and Yield of Taro on Dry Land. Akta Agrosia, 131, 1–7. Uke, K. H. Y., Barus, H & Madauna, I. W. 2015. Effect of Tuber Sizes and Potassium Dosages on Growth and Production of Shallots var. Lembah Palu. Jurnal Agrotekbis, 36, 655 - 661. Utomo, & Suprianto, A. 2019. Respon pertumbuhan dan produksi tanaman bawang merah Allium ascalonicum L. varietas thailand terhadap perlakuan dosis pupuk kusuma bioplus dan KNO3 putih. Jurnal Ilmiah Hijau Cendekia, 41, 28–34. Wu, C., Wang, M., Cheng, Z & Meng, H. 2016. The response of garlic Allium sativum L. bolting and bulbing to temperature and photoperiod treatments. Biol Open, 54, 507-518.... Bulbs from loose spacing tend to have larger tuber diameters. Azmi et al., [7] reported similar results that large tubers will produce tubers with a large diameter as well. ...T E N SiagianE R SasmitaE B IrawatiShallot Allium ascalonicum L. is a kind of horticultural commodity, which has good development potential in Indonesia. In order to overcome the uncertainty of climatic conditions and demand that continues to increase as the population of Indonesia increases, it is necessary to develop shallot cultivation techniques using the NFT hydroponic system. This study aimed to determine the effect of the interaction between plant spacing and tuber cutting on the growth and yield of shallots. The study was conducted in February-April 2021 at Hidroponikpedia, Pandowoharjo, Kab. Sleman, Special Region of Yogyakarta 55512. The study used a two-factor split-plot design replicated 3 times. The main plot used plant spacing consisting of 3 levels 10x10 cm, 10x15 cm, and 10x20 cm and the subplot used the tuber cutting consisting of 3 levels without cutting, cutting 1/3 parts, and cutting 1/4 parts. Record data on growth and yield parameters, and perform analysis of variance ANOVA at the 5% level of significance. The results showed that there was no interaction between plant spacing and tuber cutting on the growth and yield of shallot. The tuber cutting treatment has obvious growth and yield, but the difference in plant spacing between the kinds of plant spacing is not nofiyantoPriyono PriyonoSiswadi SiswadiPenelitian ini berjudul “Kajian Dosis Pupuk N Dan Pupuk Kandang Kambing Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Bawang Merah Allium Ascalonicum. L”. Tujuannya untuk mengkaji pengaruh pupuk N dan pupuk kandang kambing terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah. Pelaksanaan pada tanggal 18 November 2022 hingga 20 Januari 2023 di di Dusun Senayu, Desa Tunggur, Kec. Slogohimo, Kab. Wonogiri, Jawa Tengah. Metode yang digunakan yaitu RAKL Faktorial dengan 2 faktor. Faktor 1 yaitu pupuk kandang kambing K dengan 3 taraf, meliputi K0 = Kontrol, K1 = 100 g/tan, dan K2 = 200 g/tan. Faktor 2 yaitu dosis pupuk N dengan 4 taraf, sebagai berikut D0 = Tanpa perlakuan, D1 = 0,5 gr/tan, D2 = 1 gr/tan, dan D3 = 1,5 gr/tan. Sehingga dari rancangan tersebut terdapat 12 kombinasi serta diulang 3 kali. Data parameter di dianalisis dengan ANOVA kemudian dilanjut menggunakan uji DMRT taraf 5%. Dari kesimpulan menunjukkan bahwa pemberian dosis pupuk N berpengaruh terhadap pengamatan jumlah daun, pemberian pupuk kandang kambing berpengaruh pada pengamatan tinggi tanaman, diameter umbi, dan berat segar umbi per tanaman, Interaksi perlakuan dosis pupuk N dan pupuk kandang kambing tidak berpengaruh pada semua NurPenelitian ini bertujuan mengidentifikasi lengas tanah/kadar air pada perlakuan frekuensi penyiraman, mendapatkan varietas bawang merah yang menghasilkan pertumbuhan dan hasil paling tinggi pada perlakuan frekuensi penyiraman, mengetahui adanya interaksi antara varietas bawang merah dan frekuensi penyiraman yang diujikan dilihat dari variabel pertumbuhan dan hasil bawang merah. Penelitian lapangan dilakukan di Desa Pulosari Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes selama tiga bulan Juni sampai dengan Agustus 2020. Rancangan percobaan yang digunakan ialah rancangan petak terpisah dengan tiga ulangan. Petak utama ialah tiga varietas bawang merah V1 = Bima, V2 = Kuning dan V3 = Sumenep. Anak petak ialah frekuensi penyiraman F1 = satu kali sehari, F2 = dua kali sehari. Data yang diperoleh dianalisa dengan menggunakan analisis sidik ragam pada taraf kesalahan 5 %, apabila terjadi perbedaan nyata dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil BNT taraf 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kadar lengas tanah tertinggi pada perlakuan frekuensi penyiraman dua kali sehari 36,05 cm-1, varietas bawang merah yang menghasilkan pertumbuhan dan hasil paling tinggi pada perlakuan frekuensi penyiraman adalah Sumenep V3 dan adanya interaksi varietas dan frekuensi penyiraman terhadap pertumbuhan dan hasil bawang Puji AstokoNunuk HelilusiatiningsihTitik IrawatiABSTRAK Bawang merah merupakan tanaman semusim yang banyak dimanfaatkan sebagai bumbu masakan. Di Kabupaten Nganjuk menurut data BPS, bawang merah ditanam di 19 kecamatan pada total lahan seluas ha di tahun 2019; ha di tahun 2020; dan lahan seluas ha di tahun 2021. Total produksi bawang merah sebesar ton pada tahun 2021 dengan produktivitas sebesar ton/ha. Produksi ini masih di bawah potensi produksi yang sebesar 10 ton/ha. Upaya untuk meningkatkan produksi dapat dilakukan dengan memberi perlakuan pembenah tanah. Tujuan penelitian adalah mengkaji produksi bawang merah dengan beberapa pembenah tanah. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan perlakuan 3 macam pembenah tanah, yaitu 1 Orkap Pembenah tanah pupuk kandang 2 ton/ha + kapur pertanian 2 ton/ha + Urea 200 kg/ha +ZA 200 kg/ha + SP-36 400 kg/ha + KCl 400 kg/ha; 2 BePom Pembenah tanah Beka-Pomi + bahan organik 2 ton/ha +Urea 200 kg/ha +SP-36 400 kg/ha + KCl 400 kg/ha dan 3 Konven Metode yang diterapkan petani, yaitu pupuk NPK 16-16-16 dosis 400 kg/ha + Urea 200 kg/ha, ZA 200 kg/ha + pupuk majemuk NPS 16-20-12 dosis 400 kg/ha + KCl 400 kg/ha. Setiap perlakuan dilakukan di dua lokasi masing-masing seluas 1250 m2. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah anakan, bobot basah tanaman, jumlah dan diameter umbi segar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perlakuan BePom memberikan tinggi tanaman yang tertinggi dibanding perlakuan Konven. Jumlah anakan bawang merah terbanyak dicapai pada perlakukan Orkap. Sementara bobot basah tanaman, jumlah dan diameter umbi bawang merah tidak berbeda nyata pada semua perlakuan pembenah tanah. Ketiga perlakuan memberikan hasil yang sama baiknya. ABSTRACTShallot is an annual plant that is widely used as spice. In Nganjuk Regency, according to BPS data, shallots were planted in 19 sub-districts on a total land area of 13,861 ha in 2019; 14,505 ha in 2020; and land area of 16,780 ha in 2021. Total shallot production is tons in 2021 with a productivity of tons/ha. This production is still below the potential production of 10 tons/ha. Efforts to increase production can be done by treating the soil amendments. The research objective was to study shallot production with several soil amendments. The study was conducted using a randomized block design with 3 types of soil amendments, namely 1 Orkap 2 tons/ha of manure + 2 tons/ha of agricultural lime + 200 kg/ha of Urea + 200 kg/ha of ZA + SP-36 400 kg/ha + KCl 400 kg/ha; 2 BePom Beka-Pomi soil enhancer + organic matter 2 tonnes/ha +Urea 200 kg/ha +SP-36 400 kg/ha + KCl 400 kg/ha and 3 Konven The method applied by farmers, namely fertilizer NPK 16-16-16 dose of 400 kg/ha + Urea 200 kg/ha, ZA 200 kg/ha + compound fertilizer NPS 16-20-12 dose of 400 kg/ha + KCl 400 kg/ha. Each treatment was carried out in two locations with an area of 1250 m2 each. Parameters observed included plant height, number of tillers, fresh weight of plants, number and diameter of fresh tubers. The results showed that the BePom treatment gave the highest plant height compared to the Konven treatment. The highest number of shallot tillers was achieved in the Orkap treatment. While the fresh weight of the plants, the number and diameter of shallot bulbs were not significantly different in all soil enhAslidayantiNurcayaPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Berbagai Ukuran Umbi terhadap pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah Varietas Bima. Dilaksanakan di Desa Arajang Kecamatan Gilireng Kabupaten Wajo yang pelaksanaannya berlangsung dari Februari sampai Mei 2020. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok RAK dengan perlakuan Ukuran Umbi bawang merah terdiri dari 3 antara lain ukuran kecil U1, Ukuran sedang U2 dan Ukuran Besar U3. Setiap perlakuan diulang sebanyak lima kali, sehingga jumlah unit perlakuan sebanyak 15 3 x 5. Selanjutnya setiap unit perlakuan ditanam pada setiap petakan yang telah disiapkan dengan ukuran 1 m x 1 m. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa Perlakuan pengaruh berbagai ukuran umbi bawang merah terhadap pertumbuhan dan produksi bawang merah menunjukkan pengaruh yang tidak nyata terhadap semua parameter pengamatan, baik parameter pertumbuhan maupun parameter produksi. Berdasarkan hasil rata-rata pengamatan secara umum menunjukkan perlakuan ukuran umbi U2 ukuran sedang memberikan nilai rata-rata lebih tinggi dibanding dengan perlakuan ukuran kecil U1 dan besar U3. Sesuai hasil produksi yang diperoleh untuk ukuran sedang U2 sebanyak 9,32 ton/ha, dan terendah perlakuan umbi kecil U1 sebesar 8,20 ton/ experimentation was done at Bangladesh Agricultural University, Mymensingh during, 2005-2006 to evaluate doses of paclobutrazol PBZ and bulb size of onion for their effect on growth and seed production of onion. Onion variety "Taherpuri" with three-bulb sizes viz., small, medium and large was used. Doses of PBZ were 20, 40, 80 ppm and no PBZ was used as control. A two-factor experiment was laid out in a randomized complete block design with three replications. PBZ application significantly reduced plant height, number of tillers per bulb, number of leaves per plant and length of scape. Number of flowers, umbels per bulb, umbel diameter, 1000-seed weight and seed yield were not influenced by PBZ concentrations used. Plant height, number of leaves per plant, length of scape, effective fruits per umbel, percentage of fruit set and seed yield were positively influenced by bulb size of onion. Variable interactive effects of PBZ dose and bulb size for different traits were L. BrewsterThis fully revised, expanded and updated edition of the successful text, Onions and Other Vegetable Alliums, relates the production and utilization of these familiar and important vegetable crops to the many aspects of plant science underpinning their production and storage technologies. Chapters cover species and crop types, plant structure, genetics and breeding, physiology of growth and development as well as pests and diseases, production agronomy, storage after harvest and the biochemistry of flavour, storage carbohydrates and colour and how this relates to nutritional and health benefits. From this wide perspective it is possible to see many examples where underlying scientific knowledge illuminates, explains and can improve agronomic practice. The reader will get an insight into how molecular methods are revolutionizing the study of taxonomy, genetics, pathology and physiology and how these methods are being applied in the breeding of improved size and maturity are key characteristics of an onion crop and the onset of bulbing is an important determinant of these. In this paper we describe an experiment in which bulb and neck diameter and leaf number were measured in onion crops cultivars Pukekohe Longkeeper and Early Longkeeper with different sowing dates planted at two different locations in New Zealand. A sensitive indicator of earliest time of bulbing was developed using the ratio of bulb and neck diameters and the statistical technique of cusums. Bulb diameter at bulbing was related to thermal time accumulated prior to bulbing. Bulbing only occurred when dual thresholds of a minimum thermal time of 600 degree days and a photoperiod of h were reached. Mathematical relationships were developed between leaf number, sowing date, bulbing date and bulb growth and maturity. Final bulb size could be predicted from bulb size at bulbing and number of leaves produced after bulbing. Bulb maturity date could be predicted by number of leaves after Stabilitas Hasil Bawang MerahE P AmbarwatiYudonoAmbarwati, E. dan P. Yudono. 2003. Keragaan Stabilitas Hasil Bawang Merah. Ilmu. 102 Daya Hasil dan Preferensi Petani terhadap Varietas Bawang Merah Lokal dari Berbagai Daerah. Laporan Hasil Penelitian APBN 2005 ROPP D1R S BasukiBasuki, R. S. 2005. Penelitian Daya Hasil dan Preferensi Petani terhadap Varietas Bawang Merah Lokal dari Berbagai Daerah. Laporan Hasil Penelitian APBN 2005 ROPP D1. 8 Petani Brebes terhadap Klon Unggulan Bawang Merah Hasil Penelitian_________. 2009c. Preferensi Petani Brebes terhadap Klon Unggulan Bawang Merah Hasil Penelitian. J. Hort. 193 Pengadaan dan Distribusi Benih Bawang Merah pada Tingkat Petani di Kabupaten Brebes_________. 2010. Sistem Pengadaan dan Distribusi Benih Bawang Merah pada Tingkat Petani di Kabupaten Brebes. J. Hort. 202 Genetik Beberapa Sifat dan Seleksi Klon Berulang Sederhana pada Tanaman Bawang Merah Kultivar AmpenanAris BudiantoDan NgawitSudikaBudianto, Aris, Ngawit, dan Sudika. 2009. Keragaman Genetik Beberapa Sifat dan Seleksi Klon Berulang Sederhana pada Tanaman Bawang Merah Kultivar Ampenan. Crop Agro. 21 Cara Pelayuan Daun, Pengeringan, dan Pemangkasan Daun terhadap Mutu dan Daya Simpan Bawang MerahD D HistifarinaMusaddadHistifarina, D. dan D. Musaddad. 1998. Pengaruh Cara Pelayuan Daun, Pengeringan, dan Pemangkasan Daun terhadap Mutu dan Daya Simpan Bawang Merah. J. Hort. 811036-1047. Di banyak negara di dunia, penanaman bawang merah paling banyak adalah dari umbi dan bukan dari biji. Namun di masa sekarang penanaman dari biji sangat penting karena dapat memberikan jalan keluar dari mahalnya ongkos produksi. Penggunaan biji adalah lebih murah dan resiko penyakit adalah lebih rendah daripada penanaman dari umbi. Penanaman dari biji, menawarkan fleksibilitas. Benih biji bisa langsung ditanamkan, dipindah tanamkan ataupun digunakan umbinya kembali untuk disimpan dan ditanamkan. Kenapa kami menawarkan alternatif penanaman dari biji adalah karena penanaman dari umbi sangat rentan terhadap penyakit. Umbi yang sudah terkena penyakit akan mengganggu tanaman lain. Produktifitas pun akan berkurang begitu juga dengan kualitasnya. Perbedaan penanaman dari bawang merah biji dan umbi adalah sangat signifikan. Saatnya anda untuk mencoba penggunaan teknologi penanaman benih dari biji atau yang dikenal dengan TSS True Shallot Seeds. KEUNTUNGAN MENANAM BAWANG DARI BIJI Dapat meningkatkan pendapatan anda Menanam dengan benih adalah awalan yang 100% murni dan bebas penyakit Penanaman bisa dilaksanakan di setiap musim namun disarankan di musim kemarau untuk biji dan dari umbi dapat dilakukan di musim hujan Penanaman akan sukses dengan didukung oleh unsur hara yang tepat dan penggunaan pupuk berimbang Daya simpan benih yang lama Musim yang tepat mendukung hasil yang maksimal Hasil produksi dapat beragam jenisnya mulai dari umbi mini, umbi konsumsi ataupun umbi untuk pindah tanam TAHAP PERSEMAIAN NURSERY 1. Persiapan Preparation Media tanam yang bagus untuk persemaian adalah tanah gembur dan berpasir. Media bisa didapatkan dengan mencampur Pupuk Kandang Halus dan tanah halus perbandingan 11 Tanah halus, Pupuk Kandang halus dan arang sekam dengan perbandingan 111 2. Semai Seedling Ukuran bed semai dibuat sesuai kondisi lahan. Campurkan benih dengan Insektisida ST Seed Treatment Benih ditaburkan pada bed semai dengan kedalaman lubang semai 2 cm dan jarak antar jalur tanam 10 cm. Kurang lebih sebanyak 1 gram untuk jalur tanam dengan panjang 1 m. Biji yang sudah disemai agak ditekan sebelum ditutup dengan tanah. Persemaian ditutup dengan jerami dan dibuka 7 hari setelah semai. Benih akan mulai tumbuh 4-5 hari setelah semai. 3. Perawatan Persemaian Nursery maintenance Penyiraman 2 kali sehari Sesuai kebutuhan. Pemupukan umur 21 Hari Setelah Semai. 5 g NPK dilarukan dengan 1 l air dicampur dengan Previcur 0,5 cc/l dan disiramkan di perakaran. Dosis pemupukan 10 liter/3 m2. Pencabutan gulma secara manual. TAHAP PINDAH TANAM TRANSPLANTASI Dilakukan saat tanaman di persemaian berumur 30-45 hari setelah semai atau sudah memiliki 3-4 daun. Tanaman sehat dan belum mengalami pembentukan umbi. Akar dan daun dipotong untuk mengurangi stress tanaman saat dipindah tanam. Saat pindah tanam terbaik adalah saat pagi atau sore hari. Jarak tanam 10x15 cm sesuai kebutuhan, bisa lebih rapat agar umbi pecah atau dilebihkan agar umbi besar 12 x 12 cm PEMUPUKAN DOSIS DAN WAKTU REKOMENDASI Waktu pemupukan Fertilizing time and Dosage Umur HST Pupuk Kandungan Dosis/Ha kg/Ha 10 NPK 16% n; 16% P205; 16% K20; 0,5% MgO; 6% CaO 50 10 Urea 46% N 25 25 NPK 16% n; 16% P205; 16% K20; 0,5% MgO; 6% CaO 100 40 NPK 16% n; 16% P205; 16% K20; 0,5% MgO; 6% CaO 100 40 KCL 45% K20 25 Pemupukan dilakukan dengan menaburkan pupuk di area pertanaman. IDENTIFIKASI PENYAKIT TANAMAN DAN PENANGGULANGAN Deteksi Hama dan Penyakit sangat perlu dilakukan sejak dini untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Hama yang sering menyerang adalah ulat bawang Spodoptera exigua. Pencegahan hama saat masih berupa kupu-kupu sangat diperlukan sebelum bertelur dan menjadi ulat. Penyakit yang sering menyerang adalah layu fusarium dan antraknosa. Pengendalian dengan menyemprotkan fungisida kontak dan sistemik secara bergantian dengan dosis sesuai rekomendasi Gulma yang mengganggu dapat menggunakan herbisida selektif yang digunakan aman untuk bawang dengan bahan aktif Pendimethalin atau lainnya Penggunaan pestisida sebaiknya sesuai dengan ketepatan dosis, ketepatan penyakit dan ketepatan atas waktunya. TATA LAKSANA PANEN Dilakukan saat tanaman berumur 65-75 hari setelah transplanting. Ditandai dengan pangkal batang sudah lunak dan 75% tanaman sudah mulai rebah. Penyiraman dihentikan 1 minggu sebelum panen. Umbi yang sudah dipanen dijemur selama 10 hari. Setelah kering bawang kemudian diikat dan dijual atau disimpan. Cara Membuat Sambal Kacang, Unsplash/Albert Vincent WuSambal merupakan salah satu menu makanan tambahan yang banyak dikonsumsi manusia. Cara membuat sambal kacang di rumah menjadi salah satu cara yang memudahkan pengguna untuk menghasilkan sambal kacang. Mengutip dari jurnal Bumbu kacang, saus kacang, kuah kacang, sambal kacang, atau bumbu pecel adalah semacam saus berbumbu berbahan kacang tanah goreng yang digiling dan Membuat Sambal Kacang Cara Membuat Sambal Kacang, Foto Unsplash/Albert Vincent WuKali ini Tips dan Trik akan memberikan beberapa cara membuat sambal kacang dengan mudah hanya di rumahCara Membuat Sambal Kacang Original 10 buah cabai rawit merah sesuai seleraPanaskan minyak, goreng kacang hingga kacang bersama bawang merah, bawang putih, dan cabai hingga minyak, masukkan kacang, tambahkan air dan daun jeruk, aduk kembali hingga minyak dari kacang Membuat Sambal Kacang PedasKacang tanah, cabai, bawang putih digoreng dulu. Lalu masukkan 1 gelas air matang, semua bahan diblender jadi satu. Kecuali jeruk diblender. Aduk rata. Tambahkan air 1 gelas. Test rasa. Sesuaikan dengan kekentalan atau keenceran tekstur sambal yang diinginkan. Terakhir peras air jeruk nipis ke dalam sambal kacang. Aduk rata. Membuat Sambal Kacang Tomat Terasi yang sudah digorengGoreng kacang sampai kecokelatan, cabai, bawang merah, dan bahan yang sudah digoreng tersebut ke dalam cobek dan garam, terasi, dan air beberapa cara membuat sambal kacang yang enak di rumah dengan bahan yang mudah di dapatkan. Cobalah resep di atas. Pastikan mengikuti langkah-langkahnya!

1 umbi bawang merah menghasilkan